Jumat, 10 Agustus 2018

Tidak ada manusia yang diciptakan dengan keadaan yang sempurna. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jika Allah senantiasa membuatmu terselubung dalam masalah, maka percayalah itu tidak lain dari sebuah ujian. Dan kamu harus percaya seberat apapun masalahnya,  Allah sudah memploting sesuai porsi kemampuanmu. Jangan pernah putus asa. Apapun yang kamu rasakan dan yang kamu miliki sekarang,semua itu adalah ujian, termasuk miskin dan kaya. Jika miskin, maka seberapa sabarkah dirimu terhadap keadaan hidup yang serba kekurangan, sedangkan kaya, maka seberapa besarkah rasa syukurmu terhadap apa yang kamu miliki sekarang. Jangan kufur nikmat, terus husnudzon kepada Allah.


Sabtu, 18 November 2017

BIKES (Biji Kelapa Sawit) Meningkatkan Perekonomian Kalimantan Tengah

 Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yang memiliki populasi penduduk yang tidak terlalu padat, meskipun dapat dikatakan bahwa Kalimantan Tengah memiliki lahan tahan yang cukup luas, namun penduduknya tidak banyak. Sehingga masih banyak lahan kosong dan membuat jarak pemukiman antar penduduk semakin berjauhan. Hal ini tidak membuat para penduduknya lalai akan adanya lahan kosong. Mereka memanfaatkan lahan tersebut sebagai sumber penghasilan. Misalnya lahan tersebut dijadikan sebagai lahan peternakan dan perkebunan, baik perkebunan sayuran,buah-buahan,karet,dan yang paling menonjol saat ini sebagai sumber penghasilan yang terbesar adalah perkebunan kelapa sawit. Membicarakan mengenai perkebunan kelapa sawit, Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar setelah negara Malaysia. Pada tahun 2016 di perkirakan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 11,67 Hektare (Ha).
 Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Baik perkebunan milik rakyat, swasta maupun pemerintah daerah Kalimantan Tengah itu sendiri. Tidak sedikit masyarakat disana yang memiliki perkebunan kelapa sawit, karena kelapa sawit di Kalimantan Tengah memang menjadi prioritas utama bagi masyarakat maupun pemerintahnya dalam meningkatkan perekonomian di daerah tersebut. Sebagian besar perkebunan kelapa sawit disana dimiliki ataupun dikuasai oleh pemerintah daerah Kalimantan Tengah. Mengapa demikian ? karena perkebunan yang besar itu membutuhkan modal yang besar pula, jika pemerintah yang mengelola perkebunan tersebut, maka kemungkinan besar akan banyak investor yang menginvestasikan dananya pada suatu perusahaan yang mengelola kelapa sawit untuk di jadikan minyak kelapa. Dilihat dari aspek keuntungan, hal ini sangat menguntungkan karena harga pembelian kelapa sawit di Kalimantan Tengah kurang lebihnya 1.500,-. Bahkan menurut Kasi Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Mutu yaitu Rina Rosalina pada Agustus 2017 mengatakan bahwa ”kelapa sawit berumur 3 tahun harganya Rp 1.241,32,kelapa sawit berumur 4 tahun Rp 1.385,92,kelapa sawit umur 5 tahun Rp 1.482,94,kelapa sawit umur 6 tahun Rp 1.526,78, dan kelapa sawit umur 7 tahun Rp 1.584,99” itu merupakan harga perkilo kelapa sawit. Dilihat dari harga minyak goreng yang sudah jadi itu sangat mahal bila dibandingkan dengan harga pembelian kelapa sawit dalam keadaan mentah. Namun perlu diketahui bahwa dalam pembuatan minyak goreng membutuhkan proses yang sangat panjang dan juga penyaluran dari produsen ke konsumen itu membutuhkan biaya, akan tetapi hal tersebut masih menguntungkan bagi produsen. 
Kelapa sawit di proses menjadi minyak kelapa (minyak goreng) untuk kebutuhan masyarakat pada lazimnya. Karena semua masyarakat hampir setiap hari membutuhkan minyak goreng sebagai keperluan untuk memasak dan hal tersebut tidak akan bisa di hindari. Oleh karena itu dengan adanya perkebunan kelapa sawit akan mempermudah masyarakat untuk mengkonsumsi minyak goreng. Dengan adanya perkebunan kelapa sawit maka penghasilan atau pendapatan daerah tersebut bisa naik ataupun bertambah. Mengapa demikian ? karena semakin banyak kelapa sawit yang di hasilkan maka akan semakin banyak produsen yang memproduksi kelapa sawit sebagai minyak goreng,hal ini akan menambah pajak yang dikeluarkan produsen kepada pemerintah. 
Tentu saja hal ini akan menambah pendapatan pemerintah suatu daerah tersebut. Namun perlu diketahui bahwa ada permasalahan yang ditimbulkan dengan adanya produksi minyak kelapa sawit, yaitu limbah biji kelapa sawit (bungkil) yang tersisa dari proses produksi menyebabkan pencemaran dan lama-kelamaan akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat pembusukan bungkil-bungkil tersebut. Peristiwa tersebut sangat mengganggu aktivitas masyarakat sekitar pabrik minyak kelapa sawit tersebut. Dan itu membuat masyarakat tidak nyaman berada di daerah itu. Biji kelapa sawit yang terbuang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali, supaya dapat mengurangi pencemaran yang di akibatkan oleh bungkil tersebut. Tidak sedikit masyarakat disana yang memiliki peternakan, misalnya sapi,bebek,dan ayam. Dan bungkil tersebut dapat di olah menjadi tepung maupun dedak (bekatul) sebagai pakan hewan peternakan karena bungkil memiliki banyak kandungan gizi yang dapat mempercepat pertumbuhan hewan-hewan ternak tersebut. Menurut penelitian Ketaren (1986) menjelaskan bungkil sawit mengandung nutrisi yang lebih tinggi di banding limbah lainnya dengan kandungan protein kasar 15% dan energi kasar 4.230 kkal/kg, zat-zat tersebut berperan sebagai pakan penguat (konsentrat). Selain biji kelapa sawit (bungkil) ,sabut kelapa sawit yang tersisa pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, karena sabut kelapa sawit mengandung minyak yang dapat menghasilkan energi panas dan energi mekanik. Hal itu dapat mengurangi pemakaian bahan bakar minyak seperti minyak tanah maupun gas yang digunakan masyarakat setempat. Dan sabut kelapa sawit juga dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan (aksesoris) seperti gantungan kunci, gelang, dan sebagainya. 
Apabila masyarakat menyadari hal tersebut maka dapat meningkatkan perekonomian daerah itu sendiri. Karena banyak yang dapat diambil manfaatnya dari kelapa sawit untuk membantu masyarakat mendapat penghasilan sehingga pertumbuhan ekonomi didaerah tersebut bisa lebih baik. Selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, itu juga merupakan salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran yang di akibatkan oleh limbah kelapa sawit. Karena minyak goreng merupakan prioritas utama dari kelapa sawit, jika sisa-sisa limbah kelapa sawit terutama biji kelapa sawit di manfaatkan sebagai pakan peternakan itu dapat menambah pemasukan masyarakatnya , karena banyak masyarakat disana yang memiliki peternakan dan itu pasti membutuhkan bahan pakan setiap harinya.

Sabtu, 23 September 2017

AUTOBIOGRAFI


    Nama saya Siti Fadhilah. Saya biasa dipanggil Dila. Saya lahir dari pasangan bapak Abdul Rochman dan ibu Sujiati. Saya lahir di Demak pada 17 September 1998. Hobi saya nonton film dan membaca novel. Alamat tempat tinggal saya ada dua, yaitu ds. Pangkalan Lima 1 Q, kelurahan Natai Raya, kabupaten Kotawaringin Barat, kecamatan Arut Selatan, Kalimantan Tengah dan ds. Gedangalas,kecamatan Gajah,kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Pada saat saya berusia 6 tahun, saya dibawa orang tua saya pergi merantau ke Kalimantan Tengah,karena perekonomian keluarga yang membuat keluarga saya nekad pergi merantau. Lalu saya masuk sekolah di SDN 1 Natai Raya. Pada saat kelas 5 , saya mengikuti lomba IPA, namun tidak berhasil.
Setelah 6 tahun saya sekolah disana,akhirnya saya lulus dari SDN 1 Natai Raya, orang tua saya menginginkan saya untuk melanjutkan sekolah di Jawa, dan akhirnya saya masuk di SMPN 1 Gajah, Demak.
Selama saya sekolah di SMPN 1 Gajah, saya ikut ekstrakurikuler dance dan tari, karena saya dulu suka dance, dan saya juga pernah mengikuti olympiade matematika dan IPA, namun tidak berhasil juga, waktu itu saya mendapat peringkat 16 dalam kabupaten.
Namun, tanpa di sangka dan di duga, ayah saya pergi ke hadapan Sang Pencipta. Jadi, semenjak itu ,ibu saya menjadi seorang single parent.
Setelah tiga tahun lamanya saya di Jawa akhirnya saya lulus dari SMPN 1 Gajah, dan saya di minta ibu untuk melanjutkan sekolah di Kalimantan lagi,karena ibu saya merasa sepi semenjak di tinggal ayah. Akhir,saya masuk di MAN Pangkalan Bun. Karena saya merasa bahwa saya banyak memiliki kekurangan dalam agama. Saya masuk di jurusan IPS , karena saya menyukai akuntansi. Dan selama saya di MAN juga mengikuti beberapa Kompetisi Sains Madrasah atau biasa disebut KSM. Pertama saya ikut KSM pada kelas 10 pada tahun 2015, saya ikut KSM Ekonomi tingkat kabupaten dan saya mendapat juara 1, dan pada saat itu saya lanjut ke tingkat provinsi dengan bidang studi yang sama,namun saya gagal dan tidak mendapat juara. Di tahun depannya lagi yaitu 2016 saya mengikuti KSM Ekonomi lagi tingkat kabupaten dan itu hanya mendapat juara 2, karena dalam KSM yang dipilih hanya satu,maka saya gagal ke tingkat provinsi, dan kompetisi yang terakhir saya ikuti di MAN adalah OSN tingkat kabupaten, dan saya juga gagal disana.
Saya sering gagal dalam kompetisi ,namun ibu dan kakak saya yang selalu menyemangati saya, bahkan kadang ibu saya menegur saya jika saya belajar terlalu lama. Setelah saya naik ke kelas 12, saya sudah tidak pernah ikut kompetisi lagi, karena harus fokus ke Ujian Nasional. Tragisnya, pada semester 5 saya mendapat peringkat 4 di kelas, dan itu membuat saya down , karena itu pertama dan terakhir saya mendapat peringkat 4, dengan kejadian ini saya termotivasi untuk terus belajar lagi, dan semester saya mendapat peringkat 3, dan tidak disangka juga, saya dapat nilai matematika dan ekonomi tertinggi di sekolah dalam Ujian Nasional.
 Dan setelah kurang lebihnya tiga tahun saya tinggal bersama ibu, akhirnya kakak saya ingin jika saya melanjutkan pendidikan ke Jawa lagi. Dan akhirnya saya masuk di UNNES melalui jalur SNMPTN. Melalui jalur SNMPTN, saya hanya mendaftar satu universitas yaitu UNNES dengan jurusan pertama pendidikan ekonomi (akuntansi) dan kedua akuntansi. Saya menjadikan pendidikan ekonomi (akuntansi) sebagai alternatif pertama karena saya ingin menjadi seorang guru dan yang pastinya karena saya menyukai akuntansi, meskipun saya banyak kekurangan dalam bidang studi ini. Dan saya juga mendaftar melalui jalur SPAN-PTKIN, dalam jalur ini, saya mendaftar 2 perguruan tinggi yaitu UIN Walisongo dan IAIN Palangka Raya (Kalimantan Tengah). Dan saya di terima di kedua perguruan tinggi ini,namun saya memilih masuk di UNNES.
Dalam keluarga, saya adalah anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara dan merupakan anak bungsu. Dua kakak saya adalah laki-laki. Kakak pertama saya sudah berkeluarga dan sudah memiliki seorang buah hati serta tinggal di Wonosobo, sedangkan kakak saya yang kedua belum berkeluarga dan saat ini masih tinggal bersama ibu saya di Kalimantan Tengah.

Itulah perjalanan hidup yang pernah saya tempuh.

Terimakasih bagi yang sudah membaca autobigrafi saya, semoga bisa mengambil hikmah dalam cerita hidup saya.